Demokrasi & Kembali ke Fitrah Manusia: Paska Era Informasi

Dalam berbagai kupasan kita mengenal strata budaya manusia dari tingkatan yang paling sederhana hingga pada tingkat yang paling tinggi. Kita mengenal:

  • Masyarakat agraris – masyarakat yang banyak menyandarkan hidup-nya ke kekayaan alam di sekitar-nya untuk tetap survive. Disini kekuatan otot sangat dominan. Struktur masyarakat biasanya sangat vertikal dan mengenal jurang yang cukup dalam antara penguasa & rakyatnya. Dominasi penguasa sangat tinggi, biasanya ada prabu, raja dsb.
  • Masyarakat industri – merupakan kelanjutan masyarakat agraris. Pada tingkatan ini effisiensi pembuatan produk menjadi lebih dominan. Sayangnya sering kali manusia dilihat sebagai cost (biaya) bukan aset yang perlu dikembangkan. Struktur masyarakat lebih moderat, dengan adanya mekanisme-mekanisme perwakilan untuk melakukan kontrol. Walaupun ke tidak puasan biasanya ada dimana-mana, sehingga sering kali harus berhadapan dengan PHH.
  • Masyarakat informasi – merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari masyarakat industri. Internet dikenal sebagai salah satu kendaraan paling utama di masyarakat informasi tsb. Masyarakat informasi & pengetahuan terbentuk jika & hanya jika massa orang pandai cukup banyak. Pada kesempatan ini saya akan mencoba membahas sedikit tentang masyarakat informasi ini.
  • Apa arti  internet bagi informasi?

    Dari sisi informasi & pengetahuan, internet mempunyai kemampuan yang sangat dominan dalam:

    • Mengirimkan informasi dalam bentuk digital dalam jumlah yang sangat besar secara effisien & murah. Hanya di Indonesia mungkin jika jumlah-nya cukup besar, masih lebih murah menggunakan CD-ROM.
    • Berbeda dengan media lain umumnya, internet memungkinkan interaksi dua arah dan diskusi secara massa dengan banyak orang sekaligus dalam waktu yang singkat & effsien. Keuntungan ini hampir tidak mungkin ditemui di media lainnya.

    Dengan cara itu, anda sudah berada di forum diskusi para pengusaha warung internet yang saat ini cukup aktif untuk membangun masyarakat IT di Indonesia. Berbagai aktifitas teman-teman pengusaha warung internet di Indonesia dapat di monitor pada mailing list tsb.

    Bagi anda yang sudah lama di Internet & aktif berdiskusi, akan sangat terasa sekali manfaat interaksi dua arah ini sangat berbeda paradigma-nya dengan media-media yang biasa kita gunakan selama ini. Media cetak, radio, televisi, telepon tidak ada yang sanggup menandingi keampuhan mailing list dalam membuat segala sesuatu menjadi transparan & menggerakan masyarakat dalam arti sebenarnya.

    Struktur masyarakat berbasis Internet

    Jika anda telah biasa berdiskusi di mailing list di Internet, mungkin akan sangat terasa sebuah budaya yang mungkin jarang terjadi di dunia biasa. Dalam forum-forum diskusi di Internet akan sangat terasa bahwa:

    • Informasi menjadi lebih terbuka.
    • Kecenderungan  untuk menutup-nutupi pengetahuan yang dimiliki menjadi berkurang – karena hanya orang yang rela memberikan pengetahuan kepada khalayak banyak yang akan dipandang oleh yang lain.
    • Rasa kekeluargaan sangat lah erat, kira-kira mirip dengan jaman breaker di tahun 70-80-an.
    • Seseorang akan di akui keberadaannya karena kontribusi & bantuan-nya ke masyarakat banyak. Bottom-line-nya hanya amal & ibadah seseorang kepada masyarakat banyak yang akan menentukan penghargaan kepada seseorang.
    • Seseorang tidak akan dihargai di Internet hanya karena jabatannya di dunia nyata. Tidak perduli apakah itu menteri atau presiden.

    Dari penjelasan sepintas ini sebetulnya dapat di ambil inti filosofi masyarakat internet yang berbasis interaksi dua (2) arah, sebagai:

    • Setiap orang mempunyai kesempatan & hak yang sama dengan berpartisipasi dengan dunia informasi. Dalam bahasa politiknya di Internet hanya mengenal “one man one vote” – tidak dikenal pola-pola perwakilan seperti yang ada di dunia nyata. Hal ini kejadian dalam pembentukan Asosiasi Warung Internet (AWARI).
    • Masyarakat Internet dibentuk bukan oleh tatanan struktur & jabatan, tapi oleh fungsi, kepakaran, kontribusi dari para anggota masyarakatnya. Hal ini tampak jelas dalam berbagai diskusi di mailing list.
    • Struktur & jabatan di dunia nyata tidak berpengaruh apa-apa di Internet, setiap orang adalah sama & sejajar di Internet, tidak lebih tidak kurang.

    Sisi Ekstrim Internet Indonesia

    Jika saja semua program pemberdayaan masyarakat Indonesia yang dilakukan oleh para sukarelawan AWARI, KPLI, APJII, JII berhasil dengan baik. Di tahun 200x kita melihat 200 juta bangsa Indonesia ada di Internet – apa yang akan terjadi dengan bangsa ini? Beberapa hal yang akan menarik untuk di simak:

    • Bangsa Indonesia saat itu pasti tidak lagi berjuang menggunakan otot-nya tapi lebih bertumpu pada otak-nya.  Bukan mustahil tawuran, penodongan, pemerkosaan dll akan berkurang banyak.
    • GNP & GDP Indonesia akan meningkat tajam. Nilai tambah yang besar akan tumbuh dengan sendirinya dari added value yang diberikan oleh massa berpengetahuan tinggi ini.
    • “one man one vote” – fungsi “P” di DPR & MPR menjadi dipertanyakan? Jadi apakah kita masih memerlukan DPR & MPR? Mekanisme kepartaian menjadi dipertanyakan? Masih perlukah itu semua? Apakah tidak lebih mengkotak-kotakan bangsa ini?

    Siapkah bangsa ini untuk pola yang amat sangat transparan ini? Bayangkan:

    • Jika seseorang pejabat / lembaga melakukan kesalahan sekecil apapun, maka kritikan akan langsung dapat secara bertubi-tubi dalam media yang terbuka di Internet.
    • Jika ada pejabat yang kurang mampu & kurang tanggap, maka dengan sangat mudah di audit oleh masyarakat banyak dari cara menanggapi masalah-nya di depan umum.
    • Mampukah para petinggi melakukan debat di publik? Yang membutuhkan kemampuan, intelektualitas yang tinggi. Publik Internet berbeda dengan publik biasanya karena orang di Internet umumnya orang yang berpendidikan tidak bisa sembarangan di kelabuhi.
    • Sangat mudah membeberkan sebuah perkara ke masyarakat dengan men-scan semua bukti & di hosting di situs Web + di forward ke semua mailing list. Masyarakat akhirnya yang akan menjadi hakim, masyarakat Internet akan menentukan siapa yang benar & yang salah. Hal ini telah terjadi & saya lakukan pada kasus pelanggaran hak azasi manusia yang menimpa istri saya oleh kantor-nya Natural Resources Management Program yang biayai oleh USAID (Amerika Serikat).

    Pada sisi yang lebih positif:

    • Transparansi ilmu pengetahuan menjadi lebih mudah & murah. Akhirnya masyarakat dapat membangun sendiri dengan swadaya masyarakat & mandiri. Utangan ke Bank Dunia, ADB & IMF menjadi tidak relevan.
    • Konsep pemberdayaan masyarakat & community based development menjadi sangat dominan. Akan dipertanyakan pola-pola lama dalam pembangunan di Indonesia seperti pilot project & proyek top-down yang memposisikan pemerintah sebagai player pembangunan Indonesia bukan fasilitator dengan konsekuensi banyaknya KKN & kegagalan dalam kelanjutan proyek untuk bisa mandiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s