Konsep demokrasi Komunis

Konsep demokrasi Komunis adalah interpretasi dari konsep Marxisme-Leninisme dari Karl Marx dan Lenin.

Dua hal penting mengenai pemikiran Marx adalah: (1) Gagasan-gagasan Marx sangat bersifat moralistik. Isinya penuh dengan pesan-pesan etika dan moralitas seperti sikapnya yang anti penindasan sesama manusia dan menilai manusia sebagai makhluk kreatif. Ia menentang segala bentuk perbuatan yang merendahkan manusia; (2) karya-karya Marx memberikan analisa yang tajam mengenai eksploitasi kelas dalam sistem kapitalis. Negara dilihatnya sebagai kelas penindas yang dimiliki kaum borjuasi-kapitalis. Kelas proletar (the oppressed people) harus merebut kekuasaan negara dari tangan kelas borjuasi-kapitalis melalui cara-cara kekerasan politik. Marx yakin bahwa kelas proletariat akan memiliki kesadaran kelas (class consciousness) sesama mereka dalam usaha merebut kekuasaan negara itu. Setelah berhasil merebut kekuasaan, kelas proletar menurut Marx akan membentuk diktator proletariat dimana yang memegang kekuasaan tertinggi adalah kaum proletariat.

Perjuangan merebut kekuasaan melalui revolusi kekerasan itu dinamakan Marx sebagai perjuangan demokrasi (the battle of democracy).

Demokrasi menurut Marx adalah suatu sistem pemerintahan dimana kelas proletar yang berkuasa menjalankan kekuasaan atas nama rakyat dan untuk kepentingan rakyat. Dalam sistem demikian tidak ada lagi elit kekuasaan yang memonopoli kekuatan-kekuatan produksi sebab telah dikuasai oleh diktator proletariat.

Sementara itu bagi Lenin, meskipun kelas proletar memiliki kesadaran revolusioner atau kesadaran kelas, mereka harus ada yang menggerakkan. Lenin kemudian memperkenalkan konsep vanguard dalam terminologi komunis. Konsep ini merujuk ke sekelompok kecil kaum elit proletar. Mereka adalah kelompok terdidik, dianggap paling revolusioner, memiliki kesadaran kelas yang tinggi dan setia kepada cita-cita komunisme. Mereka inilah menurut Lenin yang menjadi agen transformasi sosial, penggerak revolusi komunis dan pelopor pembentukan demokrasi Marxis-Leninis. Lenin menyadari tanpa keberadaan vanguard, cita-cita komunisme akan sekedar merupakan konsep idealistik yang tidak akan terwujud dalam kenyataan politik.

 

Selain itu, ciri-ciri demokrasi komunis lainnnya adalah:

a.       Bersifat masyarakat anti pasar. Dalam masyarakat anti pasar tidak diperkenankan kebebasan bernegosiasi sesuatu yang mempengaruhi dan menentukan kehidupan individu dalam masyarakat. Hubungan-hubungan sosial, keagamaan, ekonomi, dan politik diatur oleh negara.

b.      Adanya maksimalisasi peran negara. Negara sangat dominan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Negara yang mengatur apa yang baik dan buruk bagi masyarakat. Jadi, moralitas ditentukan oleh negara. Maksimalisasi peran negara menimbulkan kecenderungan lain dalam negara demokrasi komunis, yaitu kurang diakuinya privatisasi dan kebebasan sektor-sektor swasta (non-negara) untuk mengembangkan diri. Hak-hak privat dan dominasi sektor swasta dianggap kejahatan sosial dan dianggap sumber berbagai ketimpangan sosial ekonomi.

c.       Pembatasan partisipasi politik. Dalam negara komunis, partisipasi politik hanya ditolerir sejauh ia mendukung kekuatan rezim yang berkuasa. Partisipasi  politik yang berbeda atau bertentangan dengan aspirasi pemerintah dianggap sebagai kegiatan politik ilegal dan tindakan subversif. Karena partisipasi politik diperkenankan sejauh dimaksudkan untuk mendukung penguasa, maka terdapat kecenderungan dimana partisipasi di negara-negara demokrasi komunis lebih bersifat partisipasi politik yang dimobilisasi. Kegiatan politik bukanlah merupakan partisipasi yang benar-benar muncul karena kesadaran diri, otonom atau sukarela.

d.      Kurang mengenal kebebasan pers, sebab pers atau media massa sepenuhnya berada di bawah kontrol kekuasaan. Pers hanya diperkenankan menyuarakan aspirasi, program, dan cita-cita elit penguasa. Maka, dalam demokrasi komunis pers tidak bisa disebut sebagai pilar keempat (the fourth pillar) demokrasi, karena pers, misalnya, tidak bisa secara bebas menyuarakan pandangan, aspirasi, gagasan dan penyelewengan kekuasaan negara.

e.       Digunakannya sistem partai tunggal dominan (one party system). Di negara demokrasi komunis tidak dikenal persaingan atau kompetisi partai-partai seperti yang terdapat dalam demokrasi liberal (Barat) sebab hanya ada satu partai yang berkuasa. Kalaupun ada partai-partai lainnya, pada umumnya lemah dan tidak memiliki kekuasaan politik yang memungkinkan mereka bernegosiasi dengan partai negara yang dominan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s