ya….pustakawan deh.

Alasan utama saya menjadi pustakawan adalah sebuah kesenangan saya dengan aktivitas penelusuran informasi. Hubungannya dengan seorang pustakawan, tentu saja profesi ini menuntut keprofesionalan dalam mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan suatu informasi kepada masyarakat. Out-put informasi tersebut bisa berupa karya cetak ataupun non cetak yang didalamnya banyak terdapat be-ribu – ribu informasi sehingga bisa dijadikan modal dasar sebagai seorang ‘penelusur informasi yang handal’. Pada intinya, seorang pustakawan yang profesional seharusnya ia akan lihai dalam melakukan sebuah aktivitas ‘penelusuran informasi’ karena banyak memiliki perbendaharaan kata serta telah mengusai berbagai informasi dari aktivitas membaca.

Bahwa sahnya saya mengutip perkataan  Setiap kerja membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang penerapannya membutuhkan pengaturan sosial. Sebuah masyarakat moderen mengelompokkan pekerjaan menurut jenis pengetahuan dan ketrampilan yang menurut masyarakat itu diperlukan untuk melaksanakan tugas tertentu. Tingkat kekhususan (spesialisasi) pengetahuan dan ketrampilan bagi sebuah masyarakat ikut menentukan keprofesionalan sebuah pekerjaan. Seberapa pun bersikerasnya sebuah profesi mengatakan bahwa pengetahuan dan ketrampilan mereka bersifat “khusus”, tetapi jika masyarakatnya menganggap pengetahuan dan ketrampilan itu bersifat “umum”, maka tetap saja pekerjaannya disebut tidak profesional.  [Putu Laxman Pendit, 2001:2] (http://www.perpustakaan.org/catatan-pengantar-siapa-pun-ingin-menjadi-pustakawan.html)

Jika melihat realita yang ada dalam dunia profesi pustakawan Indonesia, Banyak sekali para pustakawan yang tak berlatar pendidikan formal Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Walaupun tidak berlatang pendidikan formal mereka dapat menjabat sebagai pustakawan karena telah menempuh pendidikan dan pelatihan di bidang perpustakaan. Fenomena – fenomena inilah yang menjadi rujukan bagi mereka yang berpandangan bahwa profesi pustakawan bukanlah sebuah profesi yang khusus, orang-orang yang berlatar belakang pendidikan formal pun dapat menjadi seorang pustakawan.

Bahwa perkembangan profesionalisme pustakawan indonesia tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial-budaya masyarakatnya. Menurut saya ada dua tekanan yang akan mengubah orientasi profesionalisme pustakawan adalah:

  • kemajuan teknologi informasi dan penerapannya di dunia kepustakawanan Indonesia yang menuntut para pustakawan mencari “sandaran” di luar kekuasaan dan fasilitas yang ada. Dukungan legalitas insitusi/ lembaga akan kurang diperhatikan manakala para pustakawan lebih merasa perlu menguasai ketrampilan teknologi.
  • liberalisasi akses informasi yang melahirkan tuntutan kepada sumberdaya informasi yang terbuka, independen, dan bebas. Tekanan ini akan berjalan seiring dengan dorongan demokratisasi, liberalisasi ekonomi, dan kemerdekaan berserikat. Pada akhirnya, profesionalisme yang berkembang bukan lagi profesionalisme atas restu lembaga atau institusi, tetapi lebih mendekati profesionalisme yang menekankan pada otonomi pribadi-pribadi profesional.

Dua gejala di atas sudah mulai terlihat, terutama di kalangan para pustakawan yang bekerja di lembaga/ instansi. Bersamaan dengan itu pula, profesionalisme pustakawan mengalami perluasan sekaligus kompartementalisasi dan spesifikasi. Jenis-jenis pekerjaan yang menggunakan berbagai teknologi baru (misalnya, bahasa pemrograman, pengelolaan web, atau information resource) akan melahirkan tuntutan baru yang tidak lagi dapat dipenuhi oleh asosiasi profesi nantinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s