Partai Politik, Tak Hanya Kemampuan Memerintah

Di indonesia partai politik telah merupakan bagian dari kehidupan politik selama kurang lebih seratus tahun. Di eropa barat, terutama inggris, partai politik telah muncul jauh sebelumnya sebagai sarana partisipasi bagi beberapa kelompok masyarakat, yang kemudian meluas menjadi partisipasi seluruh masyarakat dewasa. Saat ini partai politik ditemukan di hampir semua negara di dunia.

Umumnya dianggap bahwa partai politik adalah sekelompok manusia terorganisir, yang anggota – anggotanya sedikit banyak mempunyai orientasi nilai – nilai serta cita – cita yang sama, dan yang mempunyai tujuan untuk memperoleh kekuasaan politik serta mempertahankannya guna melaksanakan program yang telah ditetapkannya.

Di indonesia kita terutama mengenai sistem multi-partai, sekalipun gejala partai-tunggal dan dwi-partai tidak asing dalam sejarah kita. Sistem yang kemudian berlaku berdasarkan sistem orsospol dapat dikategorikan sebagai sistem multi-partai dengan dominasi satu partai. Pada tahun 1998 mulailah masa reformasi, indonesia kembali ke sistem multi-partai (tanpa dominasi satu partai).

Pada fenomena menjamurnya pendirian partai politik dilatari banyak sebab. Pada awal runtuhnya orde baru, menjamurnya partai dipengaruhi kebebasan dari pembelengguan politik yang terjadi semasa rezim tersebut. Yang terjadi saat itu menjamurnya partai bisa diartikan macam – macam mulai dari rendahnya kepercayaan rakyat pada partai – partai politik yang ada hingga sekedar keinginan sebagian elit untuk meraup semua kekuasaan yang ada.

Sebenarnya di dalam negara demokrasi yang menghormati serta melindungi hak asasi, banyaknya inisiatif mendirikan partai politik adalah hal biasa. Keberadaan partai politik semakin penting karena demokrasi mensyaratkan wewenang masyarakat untuk memerintah, serta menjadi bagian dari hak masyarakat dalam berpatisipasi di dalam menentukan kebijakan publik dan pemimpin. Pada pengertiannya partai politik merupakan sarana bagi warga negara untuk turut serta atau berpartisipasi dalam proses pengelolaan negara. Pada sekarang ini partai politik sudah sangat akrab di lingkungan kita. Sebagai lembaga politik, partai bukan sesuatu yang dengan sendirinya ada.

Maka dalam kajian ini mempermasalahkan apakah partai politik sudah melaksanakan perannya dalam negara demokrasi, serta partai politik dan problem demokrasi.

Peran partai politik dalam negara demokrasi

Di negara demokrasi partai politik relatif dapat menjalankan fungsinya sesuai harkatnya pada saat kelahiran, yakni menjadi wahana bagi warga negara untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kehidupan bernegara dan memperjuangkan kepentingannya di hadapan penguasa. Fungsi di negara Demokrasi ada beberapa diantaranya: sebagai sarana komunikasi politik, sebagai sarana sosialisasi politik, sebagai sarana rekrutmen politik, sebagai sarana pengatur konflik. Berikut ini diuraikan secara lebih lengkap fungsi partai politik.

Sarana komunikasi politik, di dalam masyarakat yang luas dan kompleks banyak ragam pendapat dan aspirasi yang berkembang. Dari banyaknya ragam pendapat dan aspirasi, supaya tidak hilang berbekas maka dari itu ditampung aspirasi atau pendapat yang senada. Proses ini dinamakan penggabungan kepentingan. Sesudah digabungkan, pendapat dan aspirasi tadi diolah dan dirumuskan dalam bentuk yang lebih teratur. Proses ini dinamakan perumusan kepentingan. Seandainya tidak ada yang menagresi dan mengartikulasi, niscaya pendapat atau aspirasi tersebut akan simpang siur dan saling berbenturan. Sedangkan dengan agregasi dan artikulasi kepentingan kesimpangsiuran dan benturan dikurangi. Agregasi dan artikulasi itulah salah satu fungsi komunikasi partai politik. Dalam menjalankan fungsi inilah partai politik sering disebut sebagai perantara (broker) dalam suatu bursa ide – ide (clearing house of ideas). Kadang – kadang juga dikatakan bahwa partai politik bagi pemerintah bertindak sebagai alat pendengar, sedangkan bagi masyarakat sebagai pengeras suara.

Menurut sigmun neumann dalam hubungannya dengan komunikasi politik, partai politik merupakan perantara yang besar yang mehubungkan kekuatan – kekuatan dan ideologi sosial dengan lembaga pemerintah yang resmi serta aksi politik yang lebih luas. Akan tetapi sering terdapat gejala bahwa pelaksanaan fungsi komunikasi ini, sengaja atau tidak sengaja, menghasilkan informasi yang berat sebelah dan malahan menimbulkan kegelisahan dan keresahan dalam masyarakat. Misi informasi semacam itu menghambat berkembangnya kehidupan politik yang sehat.

Sarana sosialisasi politik, dalam ilmu politik sosialisasi politik diartikan sebagai suatu proses yang melaluinya seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomenapolitik, yang umumnya berlaku di dalam masyarakat dimana ia berada. Dimensi lain dari sosialisasi politik adalah sebagai proses yang melaluinya masyarakat menyampaikan “budaya politik” yaitu norma – norma dan nilai – nilai, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sisi lainnya dari fungsi sosialisasi politik partai adalah upaya untuk menciptakan citra (image) bahwa ia memperjuangkan kepentingan umum. Ini penting jika di kaitkan dengan tujuan partai untuk menguasai pemerintahan melalui kemenangan dalam pemilihan umum.

Namun, tidak dapat disangkal adakalanya partai mengutamakan kepentingan partai atas kepentingan nasional. Loyalitas yang diajarkan adalah loyalitas kepada partai, yang melebihi loyalitas kepada negara. Dengan demikian ia mendidik pengikut – pengikutnya untuk melihat dirinya dalam konteks yang sangat sempit. Dan dapat mengakibatkan pengotakan dan tidak membantu proses integrasi.

Sarana rekrutmen politik, berkaitan erat dengan masalah seleksi kepemimpinan, baik kepemimpinan internal partai maupun kepemimpinan nasional yang lebih luas. Untuk kepentingan internalnya, setiap partai butuh kader – kader yang berkualitas, karena hanya dengan kader yang demikian ia dapat menjadi partai yang mempunyai kesempatan lebih besar untuk mengembangkan diri. Dengan pengertiannya mempunyai kader – kader yang baik, partai tidak akan sulit menentukan pemimpinnya sendiri dan mempunyai peluang untuk mengajukan calon untuk masuk ke bursa kepemimpinan nasional. Rekrutmen politik menjamin kontinuitas dan kelestarian partai, sekaligus merupakan salah satu cara untuk menjaring dan melatih calon – calon pemimpin. Ada berbagai cara untuk melakukan rekrutmen politik, yaitu melalui kontak pribadi, persuasi, ataupun cara – cara lain.

Sarana pengatur konflik, potensi konflik selalu ada di setiap masyarakat, apalagi di masyarakat yang bersifat heterogen (khususnya indonesia), apakah dari segi etnis, sosial ekonomi, ataupun agama. Setiap perbedaan tersebut menyimpan potensi konflik. Apabila keanekaragaman itu terjadi di negara yang menganut paham demokrasi, persaingan dan perbedaan pendapat dianggap hal yang wajar dan mendapat tempat. Akan tetapi di dalam negara yang heterogen sifatnya, potensi pertentangan lebih besar dan dengan mudah mengundang konflik.

Sebenarnya disinilah peran partai politik diperlukan untuk membantu mengatasinya, atau sekurang – kurangnya dapat diatur sedemikian rupa sehingga akibat negatifnya dapat ditekan seminimal mungkin. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa partai politik dapat menjadi penghubung psikologis dan organisasional antara warga negara dengan pemerintahnya. Selain itu partai juga melakukan konsolidasi dan artikulasi tuntutan – tuntutan yang beragam yang berkembang di berbagai kelompok masyarakat. Partai juga merekrut orang – orang untuk diikutsertakan dalam kontes pemilihan wakil – wakil rakyat dan menemukan orang – orang yang cakap untuk menduduki posisi – posisi eksekutif. Pelaksanaan fungsi – fungsi ini dapat dijadikan instrumen untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan partai politik di negara demokrasi.

Partai politik dan problem demokrasi

Demokrasi telah menjadi demokrasi lips service. Pesta demokrasi menjadi panggung sandiwara dengan masyarakat menjadi penonton. Dimana setiap harinya dari bangsa ini dihabiskan untuk mengejar kemenangan pertarungan politik pemilu, konflik antar pendukung, serta sengketa hasil pemilu. Seperti dari hasil pemilihan kepala daerah di Kabupaten dan Kota yang siap menjual kekayaan bumi dengan harga yang murah. Dengan kata lain sistem demokrasi kita yang merupakan alat (tools) untuk mencapai cita-cita reformasi bisa dikatakan telah gagal.

Sebuah permainan dari lingkaran demokrasi paling fundamental adalah pada simpul undang-undang pemilu dan partai politik. Lebih spesifik lagi adalah tentang longgarnya aturan mengenai  dana politik dalam kegiatan berpolitik kita.

Undang-undang dan peraturan lainnya yang ada sekarang hanya mengatur tentang dari mana sumber dana politik. Tetapi, tidak menyentuh soal berapa jumlah maksimum dana politik yang boleh digunakan. Sehingga, kemampuan uang menjadi faktor dominan yang menentukan dalam pertarungan politik. Bukan tajamnya visi dan misi dan kredibilitas calon pemimpin dalam membela masyarakat kecil.

Selain itu Dalam era media massa dan elektronik yang sangat masif tentunya pencitraan hanya bisa dibeli oleh orang-orang yang memiliki modal kapital besar. Partai-partai politik pun diisi oleh orang-orang dari background yang sebetulnya hampir sama atau paling tidak memiliki cara pandang dan keberpihakan yang hampir sama yang banyak orang menyebutnya sebagai kartel politik. Sehingga, pemimpin yang terlahir adalah tidak lebih dari pemimpin pesanan sponsor atau pemodal.

Sebenarnya Undang-undang pemilu dan partai politik mampu menjamin setiap orang yang merasa mampu atau dianggap mampu dapat dengan mudah mencalonkan diri. Demikian pula undang-undang harus mampu membuat setiap calon pemimpin bermain dalam lapangan permainan (playing field) yang sama, akses publikasi langsung maupun melalui media massa yang sama, biaya politik yang hampir sama dan meminimalkan penggunaan biaya politik pribadi, sehingga mengecilkan peluang-peluang kelompok pemilik kapital untuk mengambil keuntungan. Sehingga, faktor uang menjadi tidak dominan bahkan hilang.

Sebenarnya pimpinan partai sangat sentralitas menjaga kemurnian doktrin politik yang dianut dengan jalan mengadakan saringan terhadap calon anggotanya dan memecat anggota yang menyimpang dari garis partai yang telah ditetapkan. Maka dari itu partai – partai semacam ini sering dinamakan partai kader, partai ideologi, atau partai asas (sosialisme, fasisme, komunisme, sosial demokrat). Dimana dalam konsepnya mempunyai pandangan hidup yang digariskan dalam kebijakan pimpinan dan berpedoman pada disiplin partai yang ketat dan mengikat.

Pendidikan kader sangat diutamakan dalam partai politik. Terhadap calon anggota diadakan saringan, sedangkan untuk menjadi anggota pimpinan disyaratkan lulus melalui beberapa tahap seleksi. Untuk memperkuat ikatan batin dan kemurnian ideologi, maka dipungut iuran secara teratur dan disebarkan organ – organ partai yang memuat ajaran – ajaran serta keputusan – keputusan yang telah dicapainya. Sebenarnya di antara banyak fungsi parpol dalam sistem demokrasi, ada lima yang sangat penting, yaitu:

  • Mengagregasikan kepentingan-kepentingan dan nilai-nilai dari berbagai kalangan masyarakat.
  • Menjajaki, membuat, dan memperkenalkan kepada masyarakat platform pemilu parpol mereka.
    Mengatur proses pembentukan kehendak politik dengan menawarkan alternatif-alternatif kebijakan yang lebih terstruktur.
  • Merekrut, mendidik, dan mengawasi staf yang kompeten untuk jabatan publik dan untuk menduduki kursi di parlemen.
  • Memasyarakatkan, mendidik, serta menawarkan kepada anggota-anggotanya saluran mana yang efektif bagi partisipasi politik mereka sepanjang masa pemilu.

Sehingga partai – partai politik yang ada justru hatus membuktikan keberaniannya berkompetisi dengan partai politik baru yang mungkin menjadi alternatif, termasuk memperrketat jalur bagi kader – kader umtuk terjun keterlibatan politik. Serta kemampuan memerintah (governability) memang perlu, akan tetapi representasi popular harus didahulukan.

 

Referensi

Budiardjo, Miriam. 2010. Dasar – Dasar ilmu politik, ed revisi 4. Jakarta: PT gramedia pustaka.

http://pusatpenelitianpolitik.blogspot.com/2012/02/problem-demokrasi-perwakilan.html

http://mediappr.wordpress.com/2007/09/13/pengantar-dasar-partai-politik-dan-demokrasi/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s